Hampir 1 tahun  sudah Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Selama periode tersebut telah lebih dari 1.210.703 dengan spesimen yang telah diperiksa adalah sebanyak 6.651.873 masyarakat Indonesia terpapar Covid-19. Dari jumlah tersebut, terdapat 1.016.036 orang pasien yang dinyatakan sembuh. Sementara pasien yang meninggal 33.183. Kehidupan sosial pun berubah, sehingga seluruh masyarakat mau tidak mau harus bisa beradaptasi.

Jika menilik ke belakang, Coronavirus Disease 19 atau Covid-19 yang menjadi cikal bakal pandemi ini pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok, pada Desember 2019. Penyebabnya adalah virus corona jenis baru yang disebut SARS Cov-2. Virus ini menyerang saluran pernapasan dan menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan.

Dalam tempo yang tergolong singkat, virus ini menyebar ke berbagai daerah lainnya di Cina, kemudian ke negara-negara lain. Setelah hampir 2 bulan menjadi wabah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 30 Januari 2020 pun menyatakan darurat global terhadap virus corona. Pada saat itu, Covid-19 sudah menyebar luas ke banyak negara.

Di Indonesia, kasus pertama Covid-19 terkonfirmasi pada 2 Maret 2020. Hanya dalam tempo 8 hari, yakni pada tanggal 10 April 2020, penyebarannya telah meluas di 34 provinsi di Indonesia. Dari keseluruhan kasus, sebanyak 1.003.000 juta di antaranya telah dinyatakan sembuh atau terbebas dari Covid-19.

Sebagai upaya pengendalian terhadap penyebaran Covid-19, pemerintah melalui Satgas Pencegahan Covid-19 melakukan kampanye protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Sementara pemerintah melakukan 3T atau tracing, testing dan treatment, masyarakat diminta untuk melakukan 3M yaitu memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan. Pemerintah juga menerapkan kebijakan pembatasan sosial. Salah satunya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 21/2020 tentang Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19. Kemudian, beleid itu diturunkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan No. 9/2020 tentang Pedoman PSBB.

Kegiatan PSBB menegaskan kembali tentang pembatasan-pembatasan aktivitas sosial. Hal itu dikarenakan Covid-19 tergolong mudah menular, khususnya melalui interaksi yang dekat antar orang ke orang. Pada masa PSBB, masyarakat diimbau untuk tidak bepergian, kecuali jika sangat diperlukan. Hal ini terutama berlaku di tempat-tempat umum yang berpotensi menimbulkan keramaian seperti pusat perbelanjaan, transportasi publik, tempat peribadatan, juga fasilitas kesehatan.

Pada masa pembatasan ini, fasilitas layanan kesehatan pun mengurangi layanan kesehatan pasien umum (pasien non Covid-19) agar fokus dalam memberikan layanan pandemi Covid-19 serta untuk mengurangi risiko penularan di fasilitas kesehatan. Masyarakat dapat melaksanakan aktivitasnya seperti biasa, tetapi dengan mengikuti protokol kesehatan, demi menghindari penularan virus dan penyebaran pandemi.

Selain pemerintah, semua pihak mulai dari pelaku usaha, NGO, kalangan akademis, dan relawan kemanusiaan melakukan kegiatan edukasi dan promosi kesehatan ke masyarakat dalam penerapan pola hidup sehat selama pandemi Covid-19. Edukasi dan promosi kesehatan memegang peran utama dalam penanganan Covid-19. Selama masa pandemi, Dengan edukasi dan promosi kesehatan yang baik maka tingkat penyebaran Covid-19 dapat ditekan. Salah satu yang mengambil bagian dalam edukasi dan promosi kesehatan dilakukan oleh Program USAID kepada mitra Konsorsium yang terdiri atas MCI, ASB, HI, ThisAble, dan AtmaConnect yang bersama dengan beberapa Mitra NGO Lokal seperti PPRBM Solo, Sapda, YKM dan Plato Foundation membuat gebrakan kegiatan sosialisasi edukasi Covid-19 dengan kelompok sasaran penyandang disabilitas dan kelompok marginal lainnya dengan nama kegiatan LeaN On by Invest DM.

Untuk wilayah Solo Raya dengan kelompok sasaran Penyandang Disabilitas mitra NGO lokal yang terlibat dalam kegiatan edukasi ini adalah PPRBM Solo. Pelaksana kegiatan sosialisasi edukasi atau yang biasa disebut dengan istilah penjangkauan melibatkan 40 petugas atau dikenal dengan sebutan promotor yang sebagian besar adalah penyandang disabilitas. Terbagi atas 7 Kabupaten Kota yakni Surakarta, Klaten, Boyolali, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo dan Wonogiri. Masing-masing  Promotor per Kabupaten sejumlah 6 orang kecuali Solo yang hanya 4 orang mengingat jumlah kecamatan yang sedikit.  

Pengambilan Penyandang Disabilitas dan kelompok marginal lainnya sebagai kelompok sasaran kegiatan sosialisasi Edukasi Covid-19 ini dengan tujuan agar mereka mendapatkan akses yang setara atas perlindungan selama Pandemi Covid-19 melalui komunikasi risiko yang inklusif dan tepat waktu, serta keterhubungan dengan layanan/skema penghubung.

Kabupaten Wonogiri sebagai salah satu wilayah yang menjadi kegiatan LeaN On by Invest DM melalui 6 promotor dengan kelompok sasaran Peyandang Disabilitas mulai bergerak melakukan kegiatan penjangkauan per Bulan November 2020. Besarnya jumlah difabel di Kabupaten Wonogiri yaitu 9.931 jiwa (data PMKS Tahun 2021) yang terbagi di 25 Kecamatan tentunya memberikan tantangan tersendiri bagi 6 promotor yang ada. Karena hal tersebut, sesuai dengan arahan dari koordinator Promotor dan kesepakatan bersama akhirnya masing masing promotor memegang 3 kecamatan. 1 orang promotor setidaknya melakukan penjangkauan ke 330 kelompok sasaran. Ke 6 Promotor yang terlibat dalam kegiatan edukasi di Kabupaten Wonogiri yaitu Simun, Sutadi, Tri Atmoko, Sri Pudjiastuti, Ana Kurniasih dan Novi.

Untuk lebih menguatkan legalitas dari kegiatan yang dilakukan, maka pada tanggal 5 November 2020 bersama dengan koordinator Promotor melakukan audiensi ke BPBD Kabupaten Wonogiri untuk menyampaikan maksud dan kegiatan program  LeaN On by Invest DM sekaligus untuk mendapatkan surat tugas bagi promotor yang ada dari BPBD. Dengan bekal surat tugas dari BPBD Kabupaten Wonogiri dan dari ASB, promotor melakukan kegiatan penjangkauan ke kelompok sasaran per 23 November 2020. Selama pelaksanaan penjangkauan promotor selain dibekali KIE, materi edukasi juga APD seperti Masker, kaos, dan ID Card.

Proses sosialisasi edukasi ke kelompok sasaran diawali dengan koordinasi dengan Pemerintah Desa terkait selain untuk pengenalan identitas promotor, perijinan juga untuk mengetahui apakah desa memiliki data dari kelompok sasaran yang dituju selain itu juga untuk menggali sejauh mana pemerintah desa telah melakukan kegiatan sosialisasi Covid-19 ke masyarakatnya. Dari beberapa desa yang didatangi, secara keseluruhan untuk mencegah Covid-19 sudah ada banyak upaya yang dilakukan diantaranya pembentukan satgas pencegahan Covid-19 di desa, pembentukan Jogo Tonggo,  pemberian bantuan BLT DD dan BSP alokasi dana desa untuk masyarakat terdampak covid-19. Untuk sosialisasi sendiri juga dilakukan melalui pemasangan baliho dan spanduk di tempat strategis, juga melalui himbauan sewaktu ada kegiatan pertemuan warga.

Proses penjangkauan ke kelompok sasaran membutuhkan wawasan, strategi, dan metode tertentu untuk melakukan pendekatan. Tantangan di lapangan seperti berhadapan dengan sikap menutup diri, penolakan atau keras kepala sebagian kelompok sasaran. Ini bisa dipahami karena mungkin orang sudah merasa bosan berbulan-bulan berada di rumah saja. Kegiatan edukasi yang diberikan pada kelompok sasaran oleh promotor diantaranya:

  1. Penerapan prinsip 3M
  2. Sering cuci tangan menggunakan sabun dan air. Penggunaan hand sanitizer mengandung alkohol minimal 60% dapat menjadi pilihan alternatif apabila tidak terdapat air dan sabun
  3. Cuci tangan sebelum menyentuh wajah, terutama mata, hidung, mulut
  4. Pemakaian masker
  5. Keluar rumah apabila terdapat keperluan penting. Apabila perlu keluar rumah, disarankan menggunakan masker, tidak memakai aksesoris, rajin mencuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer setelah menyentuh benda atau permukaan apapun, dan hindari penggunaan transportasi umum.
  6. Menjaga jarak antar individu minimal 1,5 meter dan menjauhi orang yang batuk atau bersin
  7. Melakukan social distancing dan pembatasan perjalanan sebagai upaya kesehatan masyarakat
  8. Melakukan disinfeksi pada barang atau permukaan yang sering disentuh
  9. Berobat ke fasilitas kesehatan hanya jika diperlukan
  10. Promosi Kesehatan

Promosi kesehatan juga sangat penting diberikan kepada kelompok sasaran agar kelompok sasaran memahamimengenai cara transmisi dan tingkat keparahan penyakit untuk meningkatkan kewaspadaan kelompok sasaran.

  • Pemberian KIE selama pelaksanaan penjangkauan seperti kalender, stiker, permainan puzzle dan video.

Beberapa hal yang menjadi temuan selama penjangkauan masih banyak penyandang disabilitas yang cenderung diabaikan hak-haknya dalam mendapatkan akses informasi yang benar mengenai Covid-19. Hal ini terlihat dari masih banyaknya penyandang disabilitas yang belum mengetahui apa itu 3M, pentingnya penerapan 3M, ketiadaaan masker dirumah. Dari kondisi tersebut bisa disimpulkan bahwa sosialisasi yang dilakukan selama ini belum menjangkau secara menyeluruh ke seluruh lapisan masyarakat. Informasi yang diberikan juga tidak menyesuaikan dengan kondisi disabilitas seseorang sehingga menyebabkan missinformasi.

Yang tidak kalah menonjol adalah salah persepsi, saya sehat atau orang lain sehat kenapa harus jaga jarak? Kelihatannya konsep Orang Tanpa Gejala (OTG) masih belum betul-betul berada dalam pikiran kelompok sasaran. Sehingga perlu dipertegas lagi pengetahuan mengenai konsep OTG, karena kecenderungan menjadi merasa tidak perlu menjaga jarak.

Berkaca dari hal diatas, banyak dari kelompok sasaran yang sangat berterima kasih atas kegiatan penjangkauan yang dilakukan oleh promotor. Dari yang tidak tahu apa itu prinsip 3M menjadi tahu dan mau untuk menerapkan, dari yang tidak punya masker akhirnya punya masker baik dari pemberian promotor yang memang dibekali masker oleh BPBD untuk diberikan ke kelompok sasaran ataupun membeli sendiri, dari yang senang kumpul akhirnya mulai sedikit jaga jarak untuk mencegah penularan Covid-19.

Seperti pernyataan yang disampaikan oleh Ibu Endah Sri Paryanti yang beralamat di Mojoreno Sidoharjo. Beliau seorang penyandang disabilitas fisik kaki. Kesehariannya selain bekerja sebagai pemulung juga buruh ceklok mete. Sewaktu promotor datang kerumahnya, kebetulan Bu Yanti sedang ada dirumah. Setelah proses perkenalan, promotor menyinggung kenapa yang menggenakan masker hanya bu Yanti saja sementara anak dan si nenek tidak pakai jawabnya karena masker yang mereka miliki hanya ada 2. 1 dipakai bu Yanti, dan satunya dicuci karena kotor. Karena hal tersebut sesuai arahan dari BPBD Kabupaten Wonogiri maka sebelum dimulai proses penjangkauan diberikan 6 buah masker, sehingga masing masing mendapatkan 2 masker. Ketiadaaan masker itu bukan karena sayang untuk beli, tapi memang karena tidak punya uang untuk membeli. Bu Yanti sendiri menegaskan akan selalu memakai masker yang telah diberikan oleh promotor termasuk anak dan ibunya kemanapun mereka pergi atau jika menerima tamu. Bu Yanti juga bercerita sekarang ini banyak warga masyarakat yang mulai abai menerapkan 3M. Banyak yang tidak pakai masker, ataupun pakai masker sembarangan.

Jadi memang edukasi mengenai prinsip 3M harus terus digaungkan. Masyarakat yang memang secara ekonomi sangat lemah bahkan untuk membeli maskerpun tidak mampu harus menjadi pertimbangan tersendiri agar bisa disediakan masker.

Wonogiri, 25 Januari 2021

Noviati, S.IP